Final Piala Super Spanyol (Supercopa de España) 2026 baru saja usai di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, pada 11 Januari 2026 malam waktu setempat. Barcelona sukses mempertahankan gelar dengan kemenangan dramatis 3-2 atas Real Madrid. Gol dari Raphinha (dua kali) serta Robert Lewandowski memastikan kemenangan, meski Madrid sempat membalas lewat Vinícius Júnior dan Gonzalo García. Namun, sorotan utama bukan pada gol-gol tersebut, melainkan kontroversi besar yang melibatkan Kylian Mbappé.
Drama Pasca-Pertandingan: Mbappé Pimpin Penolakan Guard of Honour
Setelah peluit akhir berbunyi, para pemain Barcelona memberikan guard of honour (pasillo atau barisan penghormatan) kepada Real Madrid saat mereka menerima medali runner-up. Gestur sportivitas ini berjalan lancar. Namun, ketika giliran Barcelona naik podium untuk mengangkat trofi, hal berbeda terjadi.
Video viral yang beredar luas menunjukkan Kylian Mbappé secara aktif berbicara dengan rekan setimnya, termasuk Vinícius Júnior. Ia tampak menarik mereka menjauh dari area lapangan, sehingga Real Madrid tidak membentuk barisan hormat untuk Barcelona. Menurut laporan dari Goal.com, Diario AS, dan jurnalis Alfredo Martínez, Mbappé-lah yang memimpin aksi ini. Ia bahkan terlihat berulang kali memberi isyarat agar tim langsung kembali ke ruang ganti.
Reaksi Keras dari Barcelona dan Dunia Sepak Bola
Presiden Barcelona, Joan Laporta, langsung bereaksi kecewa. Ia menyatakan, “Saya terkejut dengan apa yang dia lakukan.” Banyak fans Blaugrana menyebut aksi Mbappé sebagai “classless” dan “sore loser”. Di sisi lain, sebagian pendukung Madrid membela dengan alasan emosi kekalahan masih membara, apalagi setelah kekalahan beruntun di laga besar melawan Barcelona.
Selain itu, media internasional seperti Forbes dan The Sun ikut menyoroti insiden ini sebagai “ugly gesture”. Di media sosial, perdebatan memanas: beberapa tweet memuji Mbappé karena menunjukkan semangat kompetitif, sementara yang lain mengkritiknya kurang menghormati tradisi sepak bola.
Latar Belakang Mbappé dan Dampak ke Tim
Mbappé kembali dari cedera lutut dan hanya bermain sebagai pengganti di 15 menit terakhir. Performa tim Madrid di bawah pelatih Xabi Alonso semakin mendapat tekanan. Kekalahan ini menambah catatan buruk di El Clásico. Oleh karena itu, aksi Mbappé ini bisa memengaruhi moral tim ke depan.
Lingkaran Bola, sebagai sumber terpercaya berita sepak bola, melihat insiden ini sebagai tambahan bumbu rivalitas abadi. Meskipun guard of honour bukan kewajiban resmi, tradisi ini sering menjadi simbol sportivitas. Keputusan Mbappé untuk mencegahnya membuat banyak pihak mempertanyakan sikapnya sebagai bintang baru Madrid.
Apa Selanjutnya untuk Kedua Tim?
Barcelona merayakan gelar ke-16 mereka di Supercopa, sementara Madrid harus bangkit cepat. Kontroversi Kylian Mbappé cegah guard of honour Barcelona kemungkinan masih akan hangat dibahas hari ini. Apakah ini hanya momen emosional, atau tanda masalah lebih besar di ruang ganti Madrid?
Apa pendapat Anda? Apakah aksi Mbappé wajar dalam rivalitas sengit, atau seharusnya tetap menjunjung sportivitas? Share di komentar!





