Akhir Era Xabi Alonso di Real Madrid: Filosofi Kalah dari Ego Bintang

Akhir Era Xabi Alonso di Real Madrid: Filosofi Kalah dari Ego Bintang

Xabi Alonso, legenda sepak bola Spanyol, baru saja mengakhiri masa jabatannya sebagai pelatih Real Madrid setelah hanya tujuh bulan. Klub mengumumkan kepergiannya secara resmi pada 12 Januari 2026, sehari setelah kekalahan 3-2 dari Barcelona di final Supercopa de España. Meskipun demikian, banyak pengamat melihat akhir era Xabi Alonso di Real Madrid sebagai benturan antara visi filosofisnya dengan ego para pemain bintang. Analisis dari Lingkaran Bola menyoroti bagaimana dinamika internal ini memengaruhi performa tim. Selain itu, kepergian ini menandai babak baru bagi Los Blancos di bawah Alvaro Arbeloa, mantan rekan setim Alonso.

Alonso tiba di Santiago Bernabeu pada Juni 2025 dengan harapan tinggi setelah sukses membawa Bayer Leverkusen meraih gelar Bundesliga dan Piala Jerman pada 2024. Namun, transisi ke Real Madrid ternyata penuh tantangan. Karena itu, akhir era Xabi Alonso di Real Madrid menjadi topik hangat di kalangan penggemar sepak bola global.

Bacaan Lainnya

Latar Belakang Penunjukan Alonso

Real Madrid merekrut Alonso untuk menggantikan Carlo Ancelotti, yang pindah ke tim nasional Brasil menjelang Piala Dunia 2026. Klub memberikan kontrak tiga tahun kepadanya, mengharapkan filosofi permainan modern yang ia terapkan di Leverkusen. Selain itu, Alonso membawa pengalaman sebagai pemain Madrid, Liverpool, dan Bayern Munich, yang membuatnya ideal untuk memimpin skuad bertabur bintang.

Awalnya, Alonso mencatat 22 kemenangan, empat imbang, dan lima kekalahan di semua kompetisi. Meskipun begitu, hasil ini tidak memuaskan standar tinggi klub. Karena itu, tekanan mulai muncul sejak awal musim. Lingkaran Bola mencatat bahwa filosofi Alonso, yang menekankan disiplin taktis dan rotasi pemain, bertabrakan dengan ekspektasi para bintang seperti Kylian Mbappe dan Vinicius Junior.

Tantangan di Tengah Musim

Selama musim 2025-2026, Real Madrid menempati posisi kedua di La Liga, tertinggal empat poin dari Barcelona, dan hanya berada di urutan ketujuh di Liga Champions. Selain itu, performa tim sering tidak konsisten. Alonso berusaha menerapkan sistem permainan kolektif, tetapi ego individu sering mendominasi.

Misalnya, laporan internal menyebutkan perselisihan antara Alonso dan beberapa pemain kunci. Karena itu, skuad gagal menyatu di bawah kepemimpinannya. Meskipun Alonso berupaya menjaga harmoni, akhir era Xabi Alonso di Real Madrid semakin dekat ketika hasil buruk bertumpuk. Kemudian, kekalahan dari Barcelona menjadi puncaknya.

Konflik Filosofi vs Ego Bintang

Inti dari akhir era Xabi Alonso di Real Madrid terletak pada benturan filosofi dengan ego bintang. Alonso, yang dikenal dengan pendekatan disiplin, menuntut pemain untuk mengikuti strategi tim daripada aksi individu. Namun, pemain seperti Mbappe dan Jude Bellingham sering menunjukkan ketidakpuasan atas rotasi yang ia terapkan.

Selain itu, media Spanyol melaporkan ketegangan di ruang ganti, di mana ego bintang mengalahkan visi kolektif. Karena itu, Alonso kesulitan menerapkan ide-ide inovatifnya. Lingkaran Bola menganalisis bahwa situasi ini mirip dengan kasus pelatih lain di Madrid, di mana tekanan dari presiden Florentino Perez mempercepat kepergian.

Meskipun demikian, Alonso tetap mempertahankan nilai-nilai klub. Kemudian, keputusan bersama untuk berpisah muncul sebagai solusi terbaik. Akibatnya, akhir era Xabi Alonso di Real Madrid meninggalkan pelajaran berharga tentang keseimbangan antara filosofi dan manajemen bintang.

Kekalahan Penentu dan Penggantian

Kekalahan 3-2 dari Barcelona di Supercopa menjadi katalisator. Dalam pertandingan itu, Real Madrid menunjukkan permainan bagus, tetapi kesalahan individu merusak strategi Alonso. Selain itu, Raphinha mencetak dua gol untuk Barca, memperburuk situasi.

Keesokan harinya, klub mengumumkan kepergian Alonso dan menunjuk Arbeloa sebagai pengganti. Karena itu, transisi ini berlangsung cepat. Meskipun Arbeloa kurang berpengalaman, ia diharapkan membawa stabilitas ke skuad.

Dampak dan Masa Depan

Akhir era Xabi Alonso di Real Madrid memengaruhi citra klub. Selain itu, ini mempertanyakan strategi perekrutan pelatih. Lingkaran Bola menilai bahwa Madrid perlu menyeimbangkan antara ambisi dan kesabaran.

Di sisi lain, Alonso kemungkinan akan kembali ke Leverkusen atau klub lain. Kemudian, karirnya sebagai pelatih tetap menjanjikan. Karena itu, kepergian ini bukan akhir, melainkan babak baru.

Kesimpulan

Akhir era Xabi Alonso di Real Madrid menyoroti bagaimana filosofi kalah dari ego bintang di klub elite. Meskipun penuh tantangan, periode ini memberikan wawasan bagi sepak bola modern. Lingkaran Bola berharap Madrid bangkit di bawah Arbeloa, sementara Alonso terus berkontribusi di tempat lain. Akhirnya, cerita ini mengingatkan kita bahwa sukses memerlukan harmoni total.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *