Manchester United berhasil mengalahkan Manchester City dengan skor 1-2 di Old Trafford pada 18 Januari 2026. Hasil ini menjadi pukulan telak bagi The Citizens, terutama karena Erling Haaland tampil sangat di bawah standar. Striker Norwegia itu nyaris tidak memberikan ancaman sepanjang 90 menit. Erling Haaland mati kutu di hadapan lini belakang United, dan banyak pihak menilai penyebab utamanya adalah kecapekan akibat jadwal padat. Lingkaran Bola menganalisis detail pertandingan dan faktor-faktor di balik performa buruk sang bomber.
Penampilan Haaland yang Sangat Minim: Hanya Satu Tembakan Sepanjang Laga
Pertama-tama, Haaland hanya mencatat satu tembakan sepanjang laga, dan tembakan itu pun melenceng jauh dari gawang. Ia kalah duel udara, kehilangan bola berkali-kali, serta terlihat lamban dalam bergerak. Selain itu, bek United – terutama Lisandro Martinez dan Harry Maguire – berhasil membatasi ruang geraknya dengan sangat baik. Martinez bahkan memenangkan 7 dari 9 duel langsung melawan Haaland. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika penampilan Haaland menjadi sorotan utama pasca-laga.
Kecapekan Akibat Jadwal Padat: Faktor Utama Penurunan Performa
Selanjutnya, kecapekan menjadi alasan paling logis. Haaland telah bermain penuh di 8 dari 10 pertandingan terakhir Manchester City di semua kompetisi sejak awal Desember 2025. Jadwal padat Premier League, Piala FA, dan Liga Champions membuatnya tidak punya cukup waktu istirahat. Pelatih Pep Guardiola mengakui hal ini dalam konferensi pers. “Erling butuh istirahat. Dia manusia, bukan mesin,” ujar Guardiola. Meskipun demikian, Guardiola tetap memainkan Haaland karena tidak ada opsi striker lain yang setara di skuad saat ini.
Taktik United yang Efektif: Pressing Tinggi & Isolasi Haaland
Kemudian, faktor taktikal juga berperan besar. Manchester United menerapkan pressing tinggi dan blok rendah yang sangat efektif. Bruno Fernandes dan Casemiro berhasil memutus aliran bola ke Haaland dari lini tengah. Di sisi lain, Haaland sering kali terisolasi karena Kevin De Bruyne dan Phil Foden juga tampil di bawah performa terbaik. Kondisi ini membuat Erling Haaland mati kutu sepanjang laga, dan ia bahkan jarang terlihat berlari ke ruang kosong seperti biasanya.
Manajemen Beban Kerja di Era 2026: Haaland Butuh Pemulihan
Di era 2026, manajemen beban kerja menjadi topik panas di sepak bola modern. Banyak analis menilai bahwa Haaland – yang baru berusia 25 tahun – mengalami kelelahan fisik dan mental akibat jadwal internasional serta klub yang padat. Lingkaran Bola melihat bahwa istirahat singkat di jeda pertandingan berikutnya sangat diperlukan. Guardiola kemungkinan besar akan mempertimbangkan rotasi lebih banyak, terutama saat menghadapi laga melawan Arsenal pada 25 Januari 2026.
Kesimpulan: Pelajaran Berharga & Saatnya Haaland Kembali Ganas
Akhirnya, kekalahan ini tidak boleh membuat City panik. Mereka tetap berada di posisi kedua klasemen dengan selisih 7 poin dari Arsenal. Haaland masih memimpin daftar top scorer Premier League dengan 18 gol. Namun, tim harus segera memperbaiki performa kolektif dan memberikan Haaland waktu pemulihan agar ia kembali menjadi mesin gol yang ditakuti. Erling Haaland mati kutu lawan United menjadi pelajaran berharga: bahkan pemain terbaik pun butuh istirahat.
Pantau terus perkembangan Manchester City dan Premier League di Lingkaran Bola untuk analisis taktik mendalam, highlight pertandingan, serta prediksi laga berikutnya. City masih sangat kuat – dan Haaland pasti akan kembali ganas setelah mendapatkan waktu istirahat yang cukup!





